Minggu, 29 Juni 2014

Golput

"Ketika kamu golput, maka kamu tidak punya hak untuk mengkomentari pemerintah", awalnya sih aku merasa ya lucu aja, masak orang berkomentar aja gak dibolehin gara-gara golput. Masak iya kita sebagai rakyat gak boleh mengasih tahu pemerintah kalau "ini salah, itu benar". Kalau kita hanya diam saja dan menurut kepada pemerintah tanpa berpikir, apa bedanya kita dengan boneka?.

Yah beginilah orang-orang, selalu saja mencari perbedaan. Sekarang yang golput disingkirkan dari meja komentator. Besuk kalau sudah kepilih capresnya, pendukung capres yang gak terpilih juga disingkirkan dari meja komentator pemerintah dengan alasan "Komentari aja capresmu, kenapa gagal jadi presiden" atau malah pendukung capres yang terpilih yang disingkirkan dari meja komentator dengan alasan "gak usah ikut komentar, pendukung itu harus setujuh dengan semua pendapat capresnya".

Buat yang golput, gak usah sedih karena gak punya hak komentar ke pemerintah. Kalaupun kita komentar, apakah yakin komentar kita bakal didengar?.Sudah sering orang-orang berkomentar, dan hasilnya nihil. Aksi turun ke jalan hampir tiap bulan ada, dan hasilnya gak ada respon. Sampai-sampai ada yang menjahit mulut sebagai tanda tak mau berkomentar lagi sebelum komentarnya yang kemarin didengar. Kita masih ingat aksi pak Pong Harjatmo yang corat-coret atap gedung DPR tahun 2010 lalu. Kita juga masih ingat aksi bakar diri oleh almarhum Sondang Hutagalung di depan Istana Negara. Masihkah kita perlu buang-buang tenaga mengomentari Pemerintah?.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Free Website TemplatesFreethemes4all.comFree CSS TemplatesFree Joomla TemplatesFree Blogger TemplatesFree Wordpress ThemesFree Wordpress Themes TemplatesFree CSS Templates dreamweaverSEO Design