Rabu, 05 Desember 2012

So Sial

Hari-hari di awal menjadi santri, tahun 2003. Aku adalah anak yang sangat cerewet (sampai sekarang masih :D ), yang hafal lumayan banyak pepatah. Maklum, aku masih baru keluar dari SD. Dunia bagiku layaknya teori-teori yang ada di dalam buku, tentunya buku-buku dongeng karena aku semasa SD suka sekali membaca buku dongeng yang dibelikan ayah. Jadi aku berpendapat dunia ini hanya hitam dan putih saja, hanya ada orang baik dan orang jahat saja kayak yang ada di dalam dongeng.

Hari pertama masuk pondok, aku mengira semua santri adalah anak baik. Ternyata tidak, ini terbukti karena teman sekamarku melarang untuk menaruh sandal di depan asrama dan menyuruhku menaruh ke dalam kamar karena takut di ghosob atau dicuri. Jika semua santri adalah anak baik, pasti sandal ditaruh dimanapun dan selama apapun tidak bakal pindah atau hilang. Dan seiring bertambahnya usiaku di pondok, aku juga mulai ikut-ikutan ghosob sandal karena sandalku sering dighosob santri lain (balas dendam tapi jangan ditiru ya?).
Minggu awal di pondok, aku hanya menghabiskan uang Rp5.000,- itu kugunakan untuk iuran buat beli lauk. Aku jarang sekali jajan, karena kebiasaanku waktu SD memang jarang jajan kecuali kalau lagi di sekolah, dan selama minggu pertama aku di pondok kegiatan sekolah masih libur.

Setelah beberapa bulan di pondok, aku tidak menerapkan kebiasaanku waktu SD untuk jajan waktu istirahat di sekitar sekolah. Aku dan teman yang lainnya lebih memilih balik ke pondok waktu istirahat dan jajan di kantin pondok sambil menonton TV yang memang hanya ada di kantin saja.

Karena memang kebiasaan dari rumah tidak pernah tidur siang, akhirnya setiap pulang sekolah sehabis ngeliwet dan makan siang atau sebelum ngeliwet biasanya aku beli es. Selain harga esnya murah yaitu Rp500,- juga rasanya tergantung yang pesan. Hanya di situ aku pernah minum es jus kacang hijau, jus tape, jus blewa, dan juga bisa memadukannya.

Waktu aku berangkat beli es, biasanya ada yang nitip. Entah satu atau dua orang. Pernah suatu ketika hampir semua yang ada di kamar nitip, padahal anak sekamar berjumlah 15 anak. Waktu aku mau mebayar ke penjualnya ada sedikit kejadian lucu.

"Pak, berapa harga semuanya?"
"2 juta"(sambil mengobrol ke orang di seblahnya)
"Apa pak?!"
"Bukan, bukan kamu. Bentar ya?"
"Iya pak"

Setelah membayar, tiba tiba karyawannya yang juga seorang santri bilang kepadaku.

"mau aja dititipin es sebegitu banyaknya"
"kan makhluk sosial, jadi harus tolong-menolong" 
"bukan makhluk sosial tapi SO SIAL" 

Aku yang terbingung-bingung dengan perbedaan "sosial dengan so sial" tetap saja jalan balik ke kamar.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Free Website TemplatesFreethemes4all.comFree CSS TemplatesFree Joomla TemplatesFree Blogger TemplatesFree Wordpress ThemesFree Wordpress Themes TemplatesFree CSS Templates dreamweaverSEO Design