Rabu, 17 Oktober 2012

Saat Faiq dan Ihsan Gugur

Kemarin aku beli 2 bayi musang. Ini kulakukan sebagai langkah awal untuk mewujudkan rumah idamanku. Bukankan di postingan terdahulu aku sudah bilang kalau rumah idamanku adalah rumah yang banyak hewan peliharaannya, ya ini langkah awalnya. Padahal sebelumnya niat beli tupai terbang tapi karena menunggu beberapa jam penjual tupai terbang tidak datang, aku memutuskan beli bayi musang saja.

Sebenarnya, aku ingin melihara musang yang besar. Tapi, yang besar-besar pada liar. Bakal lama ngijinakinnya kalau sudah besar. Dan juga sekarang aku masih kost, mau ditaruh dimana kalau beli yang besar? kalau yang kecil kan bisa ditaruh di laci lemari atau dimana saja, kan kecil.

Seperti hewan-hewan terdahuluku yang pernah kupelihara, akupun mengasih nama pada 2 bayi musang. Namanya adalah Faiq dan Ihsan. Namanya kudapatkan dari nama temanku yang menawar harga pada waktu pembelian, dan karena penawarannya itu aku jadi beli.

Untuk membedakan Faiq dan Ihsan sebenarnya sangat sulit karena mereka sangat mirip. Aku membedakan mereka dengan sifatnya saja. Kalau Faiq keras dan Ihsan pendiam. Kalau sama-sama keras kayak waktu lapar aku memanggil seenaknya saja, yang penting namanya Faiq dan Ihsan. :D
Dua hari menemaniku, mereka gugur satu-persatu. Ihsan yang gugu pertama di waktu pagi, dan Faiq gugur saat sore. Jiwaku terguncang saat itu, betapa tidak!, mereka yang mau menemaniku, mendengarkan curhatanku tanpa pernah protes, dan pengganti pacarku saat Andha sedang sibuk  tiba-tiba gugur.

Andha melarang aku melihara hewan lagi karena dia menyuruhku hemat. Sehari setelah ditinggal Faiq dan Ihsan, Andha mengajakku jalan-jalan untuk menghiburku dan merayakan hari kelahiranku. -Hari dan tanggal lahirku tidak kukasih tahu karena malas kalau dikerjain kayak dilepar tepung, telur, dll-. Kami jalan-jalan keliling kota, alun-alun, pasar, dll. Terakhir, aku mengajaknya ke Splindid (pasar hewan di Malang) karena sudah lama dia ingin ke sana.

Di Splindid kami jalan seperti biasa, dan dia langsung mendekati kucing persia.

"Ih lucunya" katanya.
"Beli?"
"Berapaan?"
"Yang paling murah harga kucing persia Rp350.000,-"
"Hemmmm.... (maklum belum kerja), lihat musang yuk? dimana?"
"Itu di tepi jembatan"

Kamipun menuju ke tempat aku beli Faiq dan Ihsan.

"Itu ya?" sambil menunjuk musang rase dewasa.
"Iya"
"Yang kemarin dibawa anak ke kampus kayak begitu"
"Oh..."
"Jelek yah?"
"Iya, kotor"

Aku pun mengamati musang bulan, "kasihan, kotor. Padaal kalau di tangan pecinta musang, musang ini bakal terlihat cantik/cakep kayak yang pernah nongol di Kick Andy" ucapku dalam hati.

"Apakah ini yang dimaksud tupai terbang?" Sambil nunjuk sangkar tupai.
"Bukan, itu tupai kelapa"
"Terus dimana tupai terbangnya?"
"Di seberang jembatan sana"
"Kesana yuk"
"Ayuk"

Kamipun berjalan menuju tempat yang kumaksud. Sekitar 7 meter dari tempat penjual tupai terbang kami berhenti.

"Itu loh tupai terbang"
"Berapa harganya?"
"Ada yang Rp100,000.- dan ada juga yang Rp50.000,-"
"Aku belikan ya?"
"Jangan deh"
"Kenapa? Katanya ingin beli"
"Belum punya sangkarnya"
"Emang berapa harga sangkarnya?"
"Rp15.000,-"
"Aku belikan juga ya?"
"Jangan"
"Kenapa lagi?"
"Aku masih berduka karena gugurnya Faiq dan Ihsan, tidak baik kalau waktu berduka malah cari pengganti yang lain"
"Hemmm...ya sudah deh" Pasang muka cemberut kayak bakpau kisut.
"Yuk keliling lagi?"
"Ayuk" dengan nada melas.

Waktu berjalan di depan penjual kelinci, Andha diam mengamati.

"Lucu banget" Sambil lihat kelinic anggora.
"Murah kok. Tidak sampai Rp50.000,-"
"Berapa?"
"Aku tanyain ke penjualnya dahulu ya?"

"Pak ini harganya berapa?" Sambil nunjuk sangkar kelinci anggora.
"Rp25.000,- mas"

"Murah ya?" Andha menyela.
"Iya"

"Kalau yang ini?" Andha menunjuk ke sangkar kelinci biasa.
"Rp20.000,- mbak"

"Itu lucu banget ya?" Andha menunjuk ke kelinci berbulu karpet.
"Iya, aku tanyakan harganya ya?"

"Kalau yang itu berapaan pak?" Menunjuk sangkar kelinci di samping penjualnya.
"Rp30.000,-"

"Aku belikan ya?"
"Tidak ada sangkarnya sayang" aku merayu biar tidak dibelikan.
"Aku belikan sangkarnya juga"
"Jangan, tidak ada tempat buat lari-larinya"
"Iya di sangkarin, mbahku dulu juga gitu"
"Cari sangkar dulu saja ya?"
"Iya deh"

Kamipun mencari ke toko yang jualan sangkar. Tapi, aku selalu menggagalkan Andha untuk beli sangkar. Andha pun cemberut karena keinginan untuk membelikanku hewan kutolak. Padahal sebenarnya, Andha sendiri yang ingin punya kelinci, dan aku bagian merawat. :D

Waktu menulis sekarang ini, kok rasanya ingin melihara kelinci ya? Semoga penawaran dibelikan kelinci oleh Andha masih berlaku. Amiin. Kan lumayan, aku tak perlu ngeluarin uang banyak-banyak (tega banget sama istri yang tertunda). Tapi, apakah penawaran itu berlaku hanya kemarin di hari lahirku saja?.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Free Website TemplatesFreethemes4all.comFree CSS TemplatesFree Joomla TemplatesFree Blogger TemplatesFree Wordpress ThemesFree Wordpress Themes TemplatesFree CSS Templates dreamweaverSEO Design