Senin, 30 Juli 2012

Pertahanan Belakangku Jebol

Setiap jenjang pendidikan yang kulewati, selalu saja ada hal yang sangat berkesan. Misalnya waktu SD nilai ulangan pelajaran Matematika nilainya jelek waktu jawabannya hasil menghitung sendiri tapi waktu menjawabnya ngawur malah dapat nilai bagus. Dan sekarang aku akan bercerita pengalamanku sendiri waktu TK, tentunya di waktu TK banyak pengalaman yang berkesan karena semua siswa-siswinya masi imut-imut dan polos.

[+_+][+_+][+_+][+_+][+_+]

Pagi dengan langit yang cera menghiasi seluruh pelosok desa Ngembe (sebenarnya langit cerah bukan hanya di desa Ngembe saja, tapi juga di desa-desa di sekitar Ngembe. Tapi biar kelihatan indah ceritanya, maka yang cerah hanya di desa Ngembe saja). Para murid TK sedang menunggu jam masuk pelajaran sambil jajan di depan SD karena tidak ada yang jualan di depan TK dikarenakan lokasinya tidak se-strategis di depan SD.
Di depan TK adanya taman bermain, dan pagar setinggi pinggang orang dewasa yang mengelilingi TK dan taman bermain. Di luar pagar ada jalan setapak yang hanya muat untuk satu orang, di samping jalan setapak ada sungai kecil yang berfungsi untuk irigasi.

Aku dan teman-teman sekampung yang sekelas pada memilih jajan lontong mie di depan SD, walau harga lontong mie lebih mahal dari jajan-jajan lainnya tetap saja lontong mie menjadi jajan kesukaan kami dikarenakan bisa menggantikan sarapan. Harganya Rp.150 dan uang sakuku Rp.200 jadi masih sisa Rp.50 buat beli es. Aku tidak bingung kalau uang sakuku habis dahuluan sebelum masuk kelas, karena waktu istirahat aku biasa pergi ke kantor SD untuk meminta uang saku tambahan ke Ayah hehehehe.... (jangan ditiru).

Selesai sarapan lontong mie, kami kencing berdiri bersama di seberang jalan. Lokasi kencing kami tepat di depan penjual lontong mie tapi dibatasi jalan. Tentunya kami kencing dengan membelakangi penjual lontong mie dan menghadap ke sawah. Kan jorok kalau kencingnya menghadap ke penjual lontong mie.

Tiga anak kencing pertama, dan salah satunya adalah aku. Setelah tiga anak selesai kencing, giliran tiga anak lain kencing. Karena aku sudah selesai, maka aku berdiri menunggu mereka di samping jalan. Saat menunggu aku merasa mau kencing, maka aku langsung menunju ke teman-temanku yang kencing. Setelah membuka resleting dan mengeluarkan si burung, aku sudah siap untuk kencing lagi. Pas menunggu detik-detik keluarnya kencing aku merasakan pertahanan belakangku jebol, seharusnya yang jebol adalah pertahanan depan. Tiba-tiba semuanya gelap.

Memang tidak lengkap masa kanak-kanak seseorang jika belum pernah berak di celana, tapi ini terlalu indah karena lokasinya berada di depan para penjual makanan. Dan belum lagi banyak gadis-gadis TK dan SD yang sedang jajan atau bermain di depan SD, aku kan jadi malu (alah masih kecil, belum waktunya mikirin gadis!).

Tidak lama menjadi perhatian para murid SD dan TK, akhirnya Ayah datang juga menyelamatkanku. Kemungkinan besar ada murid SD yang memanggil Ayah untuk ke tempatku sekarang. Ayah langsung menggendongku ke sungai di depan TK untuk membersihkan celanaku. Selesai membersihkan celana, ayah langsung mengantarku pulang.

Selesai tragedi di depan penjual lontong mie, satu minggu penuh aku tidak masuk sekolah karena diare. Satu minggu penuh juga aku jadi pengosumsi jamu dan obat. Mending di beliin susu + sate + buah-buahan, pasti sembuh.

[+_+][+_+][+_+][+_+][+_+]

Ini cerita berak dicelana milikku, mana cerita berak di celana milikmu?

0 komentar:

Posting Komentar

 
Free Website TemplatesFreethemes4all.comFree CSS TemplatesFree Joomla TemplatesFree Blogger TemplatesFree Wordpress ThemesFree Wordpress Themes TemplatesFree CSS Templates dreamweaverSEO Design