Senin, 09 Juli 2012

Kopi, Kantuk, dan Aku

Sudah umum kita beranggapan kopi adalah penawar rasa kantuk yang paling efisien. Karena itu pula kita banyak menemukan berbagai macam produk minuman yang berbahan dasar kopi.

Dan sebelum bercerita banyak, perlu diketahui kalau aku bukanlah pecinta kopi sejati meskipun sebenarnya aku juga suka minum kopi. dan aku minum kopi punya beberapa alasan, yaitu : rasa, penawar tidur, dan terpaksa. Jika masalah rasa aku lebih memilih kopi mocca, sedangkan jika untuk penawar tidur aku memilih kopi murni, dan jika terpaksa aku memilih kopi apa saja.

Suatu malam di rumahku ada musyawarah. Ntah musyawarah apa? aku sudah lupa, maklum karena di rumah sering dipakai tempat musyawarah, kata ibu "ayahmu itu suka mengadakan musyawarah". Yang aku ingat hari itu ibu membuat beberapa makanan dan 3 teko besar untuk disuguhkan, 2 teko berisi kopi murni, dan 1 teko lainnya berisi teh hangat.

Saat musyawarah berlangsung, ketiga teko tersebut di sebar. Ternyata yang ikut musyawarah lumayan banyak, sampai teras rumah juga sudah penuh dengan orang, padahal biasanya cukup ruang tamu saja. Aku kebagian mangantar konsumsi dari dapur ke ayah yang berada di ruang tamu, dan dari ruang tangan ayah akan disebar ke sudut-sudut.

Setelah melaksanakan tugas, aku langsung ke kamar tidurku. Tidak lama berada di kamar tidur, rohku langsung digusur ke alam mimpi. Dan aku tidak tahu jam berapa musyawarahnya berakhir. Biasanya kalau aku masih bangun, aku juga mendapat tugas beres-beres setelah acara musyawarahnya. Tapi kali itu aku tidak mendapat tugas beres-beres karena aku sudah tidur, bahagianya diriku hehehehe....

Waktu bangun tidur paginya aku melihat ada 2 teko di atas meja makan. Setelah aku cek, ternyata isinya teh setengah teko dan kopi 3/4 teko. Dan aku yakin ini adalah sisa musyawarah tadi malamnya.

Setelah sarapan pagi (namanya sarapan juga pasti pagi) sekitar jam 7. Aku mencoba menyicipi kopi di teko. Dan rasanya juga masih enak cuma lebih enak kalau hangat.

"enak?" tanya ibu yang ada di belakangku.
"lumayan, hanya kurang hangat" jawabku
"ya sudah, habiskan saja"
"Apa?! semua bu?"
"iya, daripada di buang"
"Hemm........"

Dengan terpaksa aku menghabiskan setengah teko kopi saat itu dengan waktu tidak lebih dari 5 menit. Dan setelahnya, perutku kembung. Aku merasa seperti sedang hamil, padahal belum pernah merasakan hamil. Seharusnya aku mendapat gelar Pembalap Kopi karena banyaknya minum kopi dalam waktu cepat daripada orang-orang yang butuh berjam-jam hanya untuk menghabiskan 1 gelas kopi.

*********

Sabtu malam 07 Juli 2012, aku dan Kebo (lutfi teman sekelas waktu MTs di Pondok) berangkat ke pondok Ngalah untuk menghadiri haflah, padahal kitatidak diundang. Meskipun tidak ada undangan resmi, kita datang tidak ada tujuan buruk karena kita datang dengan membawa titel "alumni pondok" (ngaku-ngaku padahal madrasah diniyah belum lulus ae). Kalau ditanya apa alasanku menghadiri haflah? aku akan jawab untuk reoni dengan teman-teman dan juga mendengarkan ceramah Kyai.

Sesampai di Pondok, aku sudah merasa ngantuk karena siangnya tidak tidur dan kebo juga merasa ngantuk karena beberapa hari sebelumnya dia kurang tidur. Karena merasa sama-sama ngantuk, kita berencana mencari warung untuk beli kopi.

Satu warung kita lewati begitu saja karena warungnya ramai, kan tidak enak rasanya kalau kita ngopi di tempat ramai, kemesaraannya bakal terasa kurang :D . Pas sudah melewati warung ke dua, aku melihat ada Pandan (kakak tingkat di pondok). Tak disangka, di warung tersebut juga kita menemukan Pikolo dan Tempe. Mereka berdua adalah teman kita. Pikolo dahulu seorang santri bisnismen dan sekarang aku tidak tau apakah masih berbisnis atau sudah tidak, dia dahulu menjual rokok. Sedangkan Tempe, Kebo, dan aku adalah anak-anak yang suka ngutang rokok ke Pikolo. Baru kusadari ternyata anak-anak di luar warung adalah alumni pondok semua, tapi aku tidak mengenali mereka satu-persatu. Maklum sudah 6 tahun kita tidak bertemu.

Baru ngobrol beberapa menit, taman-teman yang lain sudah mengajak ke pondok. Aku dan Kebo menolak ajakan tersebut, karena mau beli kopi. Tempe juga menolak karena mau menemani kami. Akhirya aku dan Kebo ngopi sambil ngobrol dengan Tempe. Kita mulai bernostalgia sambil ngopi. Setelah merasa puas ngopi, kita langsung kembali ke kamarnya Pandan karena di kamar tersebut banyak anak-anak yang kukenal masih nyantri.

Saat enak ngobrol, satu per satu teman-teman yang ada di kamar keluar dengan alasan yang berbeda-beda. Hingga hanya tersisa aku, Kebo, Tempe, dan satu anak yang sedang tidur. Kita merasa ada yang tidak enak karena ngobrol tanpa camilan. Akhirnya kita memutuskan untuk kembali ke warung sebelumnya untuk membeli kopi lagi dan cemilan. Dan kita membeli 4 bungkus kopi + cemilan. Setelah mendapatkan apa yang dimau, kita lagsung balik ke kamarnya Pandan.

Di kamarnya Pandan kita menuangkan 2 bungkus kopi tersebut ke 1 gelas, gelas tersebut dari botol air mineral yang di potong menjadi dua. Dan kita mulai ngobrol-ngobrol lagi.

Tempe hanya meminum sedikit kopi, mungkin dia takut hamil (kembung) atau dia tidak suka minum banyak kopi, Kebo lumayan sering minum kopinya karena dia sambil merokok, sedangkan aku yang sudah berhenti merokok minum kopi terus.

Saat kita enak ngobrol, Pandan datang dengan membawa botol air mineral ukuran besar yang berisi kopi. Tidak lama kemudian datang teman-teman yang lain datang satu-persatu. Suasana kamar kembali meriah, kami bercanda sampai larut malam.

Jam 1 pagi, teman-teman mulai berguguran (tidur) hingga tinggal aku, Kebo, Tempe, dan Pandan yang masih bangun. Padahal kopi di dalam botol air mineral masih tersisah lumayan banyak dan di gelas masih tersisah 2 gelas, meskipun isi kopinya tidak penuh. Kebo dan Tempe meskipun sedang ngobrol denganku tapi posisinya sedang tiduran, sedangkan Pandan sibuk SMS pacaranya. Karena tidak ada yang ngopi, akhirnya kopi yang tersisa aku habiskan saja.

Sekitar jam 2:30 WIB Kebo benar-benar gugur, dan Tempe mencoba tidur tapi tidak berhasil karena kulihat dia posisinya bolak-balik terus. Sedangkan aku hanya bisa memejamkan mata tapi tidak bisa tidur karena tidak ada rasa kantuk.

Singkat cerita, hingga pulang dari Pondok (ba'da dhuhur), aku belum juga bisa tidur gara-gara kopi.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Free Website TemplatesFreethemes4all.comFree CSS TemplatesFree Joomla TemplatesFree Blogger TemplatesFree Wordpress ThemesFree Wordpress Themes TemplatesFree CSS Templates dreamweaverSEO Design