Jumat, 18 Mei 2012

Wajah Wanita itu Sangat Putih

Sekitar jam 9 pagi, 17 Mei 2012 di Pasuruan. Aku berencana ke Bangil untuk beli kertas stiker dan perdana flexi buat internetan di rumah, karena untuk sinyal CDMA hanya flexi yang lumayan banyak sinyalnya di daerah rumahku. Maklum, namanya juga asli Desa, eh dusun maksudku.

Sebelum berangkat aku dititipin ibu untuk 'kulakan' lagi (padahal jam 6 sebelmnya sudah kulakan ke Pandaan). Aku berencana untuk mencari apa yang kucari dahulu, kulakan bisa terakhir karena bisa waktu perjalanan pulang. Karena sudah mantap dengan rencana yang ada, aku langsung berangkat. Tujuan pertama adala toko Tarim, di toko ini ada berbagai peralatan sekolah, dari berbagai macam alat tulis sampai kamus bahasa kompeni pun ada.

Saat sampai di depan tokoh, mesin motor masih hidup dan aku belum turun dari motor. Aku melihat ke dalam toko, ternyata seorang wanita yang duduk di tempat kasir menatapku dengan tajam. Beberpa detik kami saling memandang, lalu aku sudahin akting saling pandang tersebut karena buang-buang watu. Aku matikan motor, dan aku langsung menuju ke dalam tokoh.

"Ada kertas stiker?" tanyaku pada sang kasir yang sedikit cantik.
"Ada, beli berapa?"
"dua saja"
"mbak, kertas stiker dua" teriaknya pada teman-temannya yang sedang ngobrol  di depan tempat kertas stiker.

Temannya pun mengambilkan dan langsung mengasihkan kertas tersebut pada sang kasir.

"ini?" tanya sang kasir sambil mengasih kertas ke aku.

Aku langsung menerima kertas tersebut dari kasir. Ternyata kertasnya bukan yang aku maksud, kalau yang kertas seperti itu di rumah banyak. Yang aku inginkan adalah kertas stiker yang permukaannya licin kayak kertas foto, bukan yang permukaannya kasar kayak kertas pada umumnya.

"Loh, yang dilapisi plastik tidak ada?"
"OOW...itu kertas stiker foto mas"
"iya, yang kertas stiker foto saja"
"mbak, ganti kertas stiker foto" sambil menyerahkan ke temannya.

Temannya pun mengambilkan kertas yang dimaksud, lalu memberikan ke sang kasir, dan sang kasir memberikan ke aku. Setelah cocok dengan yang kumaksud, aku minta sang kasir membungkusnya. Transaksi jual beli yang halal pun berlangsung saat itu.

Setelah beli kertas stiker, perjalanku kulanjutkan menuju plasa untuk mencari perdana flexi. Setelah mondar-mandir di plasa, aku tidak menemukan konter HP yang buka. Lebih dari 3 kali aku mengelilingi plasa, tapi hasilnya tetap nihil. Aku putus asa, dan berencana mencari perdana fexi-nya ke Pandaan saja.

Kukendarai motor menuju ke pasar Bangil, karena mau kulakan ke salah satu tokoh di timur pasar. Proses kulakannya tidak penting untuk kuceritakan. Bukan karena ada alasan khusus, tapi karena hanya begitu-begitu saja. Datang, ngantri dengan ibu-ibu, beli, pulang.

Setelah selesai kulakan, aku langsung berniat balik. Ternyata jalan keluar dari pasar sedikit macet, maklum jalannya tidak selebar TOL. Aku pun terpaksa mengendarai motor dengan sangat pelan-pelan.

Di sela-sela kemacetan tidak jarang aku harus berhenti sejenak karena tidak ada jalan yang bisa kulewati. Saat berhenti aku tolah-toleh ke daerah yang bisa kutoleh. Tak sangaja saat aku memandang ke seberang jalan aku memandang wajah seorang wanita. Wajahnya sangat putih, aku langsung berpendapat mungkin dia keturunan orang Cina, maklum orang Cina di sini juga banyak. "TET!...TET!..." suara klakson motor dibelakangku menyuruhku maju, karena di depanku sudah ada ruang untuk maju. Dan aku berhenti lagi, karena di depanku suda tidak ada ruang lagi. Karena penasaran dengan wanita tadi, aku pun tidak membuang kesempatan untuk memandangnya lagi. Pandangan mata langsung kuarahkan keseberang jalan dengan kordinat yang sudah kuhafal. "ASTAGHFIRLLAH" ucapku lirih saat memandang tangan dan kakinya.

Ternyata, wanita yang kupandang dari tadi hanya putih dibagian wajahnya saja. Sementara bagian tangan dan kaki yang kupandang berwarna coklat kehitam-hitaman. Kecewa diriku memandangnya untuk yang kedua kalinya. Andai saja tadi aku tidak memandang untuk yang kedua kali, niscaya aku tidak akan kecewa.

Inilah alasannya kenapa kalau aku melihat wanita selalu dari kakinya, karena hanya wanita yang benar-benar suka kebersihan yang kakinya bersih. Selama ini sering kutemui wanita yang wajahnya bersih tetapi kakinya tidak bersih, seakan-akan mereka hanya membersihkan wajahnya saja tanpa membersihkan bagian tubuh yang lainnya. Wanita jenis ini kupandang sebagai wanita yang mengutamakan penampilan luarnya saja, dan mereka beranggapan wajah yang bersih adalah syarat utama untuk jadi wanita yang menarik. Mereka menutupi kemalasan bersih-bersihnya dengan modal wajahnya bersih, padahal kakinya membuktikan lain.

Kaki juga bisa menjadi tolak ukur seberapa rajin wanita merawat tubuhnya. Karena kaki adalah bagian yang jauh dari tangan. Hanya wanita yang benar-benar rajin bersih-bersih saja yang mau membersihkan/merawat kakinya.

2 komentar:

dianmeithasari mengatakan...

Bener banget
Make up muka banyak. Make up kaki jarang.
Haha.

Celenganthropus mengatakan...

hahahaha.......

Posting Komentar

 
Free Website TemplatesFreethemes4all.comFree CSS TemplatesFree Joomla TemplatesFree Blogger TemplatesFree Wordpress ThemesFree Wordpress Themes TemplatesFree CSS Templates dreamweaverSEO Design