Minggu, 20 Mei 2012

Perjalanan Menjadi Bukan Anak Durhaka

Minggu 20 Mei 2012. Sejak bangun tidur aku bertekad hari ini harus potong rambut. Aku gak mau dibilang anak durhaka karena tidak mau menuruti apa kemauan orang tua.

Aku akhir-akhir ini juga ingat apa kata ustadz waktu aku masih kecil dahulu "ketika anak sedang sholat sunnah lalu mendengar orang tuannya menyuruh untuk beli A, maka si anak ini wajib membatalkan sholat sunnahnya". Begitu wajibnya anak untuk mengabdi kepada orang tuanya, sampai-sampai sholat sunnah harus dibatalkan.

Aku juga kemarin sudah dibilangi ibu "wong tuwo wes ngajeni awakmu, kok awakmu gak gelem ngajeni wong tuo" (orang tua sudah menghargai dirimu, kok kamu tidak mau menghargai orang tua). Ibu bilang begitu karena memang kemarin aku dibelikan motor. Sebenarnya aku keceplosan mengucapkan minta dibelikan motor karena waktu mau balik ke Malang ayah tidak bisa mengantar aku ke Pandaan. Dan tiga hari setelah keceplosan, ayah beli motor lagi untuk dirinya, dan yang lama untukku.

Oke, kembali ke hari ini. Yang lalu biarlah berlalu dan diambil hikmanya saja. Sore ini aku berencana pergi ke tempat pemotongan rambut. Tapi ternyata Tuhan mengasih banyak ujian untuk menguji niat terdalamku. Sehabis adzan ashar, tiba-tiba aku disuruh ke Bangil untuk beli ikan udang. Setelah dari bangil juga ada tugas harian yang menungguku yaitu mengepel rumah, maklum anaknya orang tuaku hanya aku yang berada di rumah. walaupun adek Ziza di rumah, tetap saja aku yang bagian mengepel. Nasibku jadi tukang pel rumah tidak pernah berubah sejak dahulu kala. Hidup memang harus berubah, tapi jadi tukang pel rumah adalah hal baik yang tidak perlu dirubah. Boleh saja dirubah asal mau dituduh anak durhaka, hayo pilih jadi anak durhaka atau pilih jadi tukang pel?.

Setelah selesai mengepel rumah, aku langsung mandi dan sholat ashar. Aku buru-buru sekali mandinya, tapi tetap saja wangi badanku. Setelah sholat ashar aku salin dan berencana langsung pergi ke tempat pemotongan rambut. "Mas, tolong belikan racun celeng" teriak ayahku waktu aku sedang salin. Oh tidak! ayah mau meracuniku, aku kan Celenganthropus. Tapi itu tidak mungkin lah, masak ayah menyuruhku membeli racun buat meracuniku, pasti buat yang lainya. Setelah ku tanya-tanya ke ibu untuk apa ayah beli racun celeng, ternyata untuk meracuni para tikus di sawah yang tanpa izin memakan tanaman padi.

Setelah salin, dengan langkah super kilat aku langsung membeli racun celeng. setelah racun kuserahkan ke ayah, aku langsung pamit ke tempat pemotongan rambut. OH TIDAK!! di tempat pemotongan ada dua anak yang sedang duduk-duduk di tempat antrian untuk menjadi korban keganasan tukang potong. Dan di dalam ruang eksekusi hanya ada satu penjagal rambut, padahal biasanya ada dua bersaudara penjagal rambut. Biasanya kalau cuma ada sang adik di ruang jagal begini, sang kakak pulang ke rumah istrinya. Aku tau ini semua karena diberi tau sama ibunya yang buka kios Pertamini di depan ruang eksekusi. Aku langsung duduk di tempat antrian.

Menunggu, menunggu, dan menunggu itu adalah kegiatan yang paling aku benci. Tapi kali ini aku suda bisa mengahlikan perhatian menungguku ke sebuah koran hari ini. Setelah beberapa lama membaca koran, tiba-tiba anak di sebelahku langsung masuk ke ruang eksekusi. Ternyata anak yang satunya adalah teman dari anak yang baru selesai dieksekusi, dia ada di sini hanya untuk mengantar temannya. Ah..., jadi bingung menulisnya, kebanyakan kata 'teman'. Tidak perlu dibahas masalah ini yah?, yang penting sekarang antriannya tinggal aku seorang. :)

Di saat aku sedang ngantri, datanglah seorang bapak yang juga ikut mengantri. Tapi tidak lama, dia langsung masuk ke ruang eksekusi. Bapak tersebut dieksekusi sama bapaknya para penjagal bersaudara. Aku juga baru kali ini melihat bapaknya para penjagal rambut mengeksekusi. Tidak lama, ada anak yang lebih mudah dariku ikut mengantri. Aku santai saja, karena sehabis ini adalah giliranku.

Saat enak-enaknya membaca koran, aku tidak menyadari kalau anak di sampingku langsung masuk ke ruang eksekusi. Padahal aku yang datang lebih dahulu. Aku bingung, masak menyuruh tukang jagalnya menghentikan eksekusi ke anak tersebut dan menyuruh aku dieksekusi dahulu? Batinku menolak untuk melakukan itu. Mau terus menunggu? kelamaan, ditinggal atau tidak jadi potong rambut? memangnya mau jadi anak durhaka? Nanggung sudah nunggu lama. Setelah beberapa lama pertempuran hati di dalam diriku. Akhirnya kuputuskan untuk menunggu saja.

Detik demi detik berlalu, rasanya sudah bertahun-tahun aku menunggu giliranku dieksekusi. Asap kendaraan yang lalu-lalang di depan ruang eksekusi menertawakanku "kasian deh lo! kasian deh lo".

Aku tidak mau ada yang mendahului antrianku lagi, aku tatap terus ruang eksekusi yang sebagian berdinding kaca tembus pandang. Setelah memastikan, di dalam sudah mau selesai, aku langsung menuju ke dalam dan langsung duduk di ruang eksekusi sambil menatap cermin di depanku.

Saat menatap cermin aku baru sadar kalau aku lebih pantas dengan rambut yang panjangnya tanggung seperti ini, niatku mulai goyah untuk potong rambut. Tapi apa boleh buat, aku sudah di ruang eksekusi. Penyesalanku pun terus tumbuh mengikuti rambut-rambutku yang berguguran. Oh Tuhan, aku ingin rambutku seperti sebelum masuk ruang eksekusi. Kalau saja di dalam kehidupan nyata ada tombol 'Undo', aku pasti sudah menekan tombol tersebut dari tadi.

setelah selesai di eksekusi, aku langsung mencari-cari alasan kenapa aku jadi jelek begini. Dan inilah beberapa alasanya :
  • Ini adalah ujian tekad untuk menjadi bukan anak durhaka.
  • Sang penjagal rambut iri degan rambutku tadi, makanya sekarang aku diperjelek.
  • dan
  • lain
  • lain
Tulisannya kok semakin tidak jelas, ya sudah lah disudain saja menulisnya.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Free Website TemplatesFreethemes4all.comFree CSS TemplatesFree Joomla TemplatesFree Blogger TemplatesFree Wordpress ThemesFree Wordpress Themes TemplatesFree CSS Templates dreamweaverSEO Design