Senin, 30 April 2012

CIta-citaku


Malang, siang menjelang sore di hari jum'at 27 April 2012. Waktu itu aku keluar dari kelas dengan pikiran yang lumayan bingung. Aku bingun karena lapar, bingung mau makan di mana enaknya yang tidak terlalu menguras kantong. Akhirnya kubulatkan untuk langsung menuju ke warung milik Emak di belakang kampus. 

Mahasiswa lain menyebutnya warungnya emak dengan nama 'Warung Madura'. Nama itu muncul karena emak dan bapak biasa berkomunikasi dengan bahasa madura ke pada mahasiswa-mahasiwa yang berasal dari madura. Meskipun ternyata setelah aku konfirmasi ke emak dan bapak bukanlah orang asli madura, tetapi orang Malang sendiri yang di kampungnya biasa menggunakan bahasa Madura. Mungkin nenek moyang di kampung tersebut asli orang madura.

Di pertengahan jalan menuju ke warung, tepatnya berada di depan gedung Fakultas Sains dan Teknologi aku tak sengaja melihat sosok anak yang tak asing bagiku. Salah satu teman PM (Pengabdian Masyarakat) di tumpang kemarin. Dia adalah Yaqin anak jurusan biologi yang berasal dari Sidoarjo.

"Maho!" teriaknya.

Tanpa pikir panjang langsung kuhampiri dia, dan dia dengan bercanda pura-pura mau lari. 

"Ayo lari saja, tetap aku kejar!" teriakku.
"Hahaha....."dia menghentikan sandiwaranya.
"Ngapain di sini?"
"Lagi ngurus pindah kuliah"

Tenggorokanku terasa kayak baru menelan durian utuh dengan kulitnya, karena lumayan shock mendengarnya. Dia di mataku merupakan anak yang cerdas, dan muda bergaul, tiba-tiba bilang seperti itu. Sepertinya aku tak sanggup mendengar berita tersebut. Padahal aku tahu sekali dia sangat haus ilmu, terutama ilmu sains. Tidak beda jauh dengan kakakku, mereka sama-sama gemar membaca. 

"Dengarkan dahulu alasannya" lanjutnya yang mungkin memahami aku sedang shock.
"Apa?"

Dia-pun menjelaskan alasannya pindah. Dia pindah karena dia sekarang jadi guru di sebuah yayasan yang berada di Jombang. Dia ikut pamanya yang bekerja jadi  guru di sana. Dan dia sekarang mau pindah ke salah satu universitas di Kediri yang memang dekat dengan Jombang. Kalau tetap di universitas ini, berarti dia harus bolak-balik Malang-Jombang. Sedangkan jarak Malang dan Jombang itu lumayan jauh. Dengan profesi barunya tersebut, dia berencana pindah ke jurusan pendidikan di salah satu Universitas kediri. 

Dia juga bercerita kalau barusan Dosen walinya sangat mendukung dia pindah, bukan karena dosen walinya benci dia di sini. Tapi dosen walinya sangat mengerti apa mau dia, dan kemauanya dia juga baik. Karena dia bukan untuk mengejar uang, kata dia gajinya di sana tidak lebih dari uang sakuku selama seminggu di Malang. Aku tahu dia bukanlah orang yang suka mengejar-ngejar uang. Dan aku juga tahu dia bukanlah orang yang suka menghambur-hamburkan uang. Dia menilai uang hanya sebatas alat pembelian, ada atau tidaknya uang tidak berdampak apa-apa bagi kehidupannya. 

"Mungkin ini adalah jalan yang selama ini orang tuaku harapkan, karena sebelum kuliah orang tuaku berharap aku bakal jadi guru. Walau cita-citaku menjadi seorang ilmuan di bidang biologi" jelasnya.
"Wah....berarti aku juga bakal jadi guru dong? karena orang tuaku juga berharap aku jadi guru"
"Mungkin, karena aku juga dahulu tidak ingin jadi guru. Tapi, sekarang malah nyaman jadi guru"
"Hahaha..., kalau aku juga jadi guru, kamu tahu sendiri aku tidak betah ngajar" aku mengingatkan dia waktu aku pertama ngajar di PM dahulu.
"hahaha...., awalnya aku juga seperti itu. Tapi, lama-kelamaan mulai terbiasa"
"belajar sambil menjalani yah?"
"iya, tapi nyantai saja. Nanti Tuhan kasih jalan sendiri, kayak aku ini tiba-tiba di kasih jalan jadi guru"

Kamipun ngobrol lama di depan gedung Sains dan Teknologi walau tak ada tujuan pasti obrolan saaat itu, yang sering adalah kami nostalgia waktu PM. Setelah lama ngobrol tiba-tiba muncul seorang cewek yang menyapa Yaqin, ternyata cewek ini yang menjadi alasan kenapa Yaqin berada di depan gedung Fakultas. Karena tidak mau mengganggu, akupun ijin untuk balik ke kost'an. Sebelum berpisah kami berencana ba'da maghrib ngopi bareng. Tak lupa aku ingatkan dia untuk mengajak Sholeh/Rodi. 

Dari pertemuan singkat tersebut aku menyadari alasan kenapa selama ini Yaqin hobi membaca, ternyata karena dia sudah mantap dengan cita-citanya. Di sini aku mulai sadar akan pentingnya sebuah cita-cita. Cita-cita bukan hanya untuk diucapkan, tapi juga untuk diwujudkan. Dan sayangnya sampai sekarang cita-citaku masih mengambang, tak jelas. seperti yang sudah aku tweetkan kemarin-kemarin "Aku bukan orang sosialis yang bercita-cita untuk kepentingan sosial, dan aku juga bukan orang egois yang bercita-cita demi diri sendiri".

Ba'da maghrib kami jadi ngopi bareng di belakang kampus. Yang datang ada Yaqin, temannya Yaqin, Rodi, dan Aku. Di pertengahan waktu ngopi tiba-tiba Tio datang bersama teman-temannya. Tio juga teman satu kelompok waktu PM. Malam itu tiba-tiba jadi malam reoni kecil-kecilan kelompok PM. Mau mengajak ketua kelompok PM, tapi kasihan kalau dia sanggup ke tempat ngopi. Karena rumahnya jauh.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

yo sajakne ddikabari rek...........
mungkin barokahnya ngabdi di Masjid..........
semua pasti punya keberkahan sendiri2.........

Celenganthropus mengatakan...

yo paleng.......
tpi sopo ki yo?

Posting Komentar

 
Free Website TemplatesFreethemes4all.comFree CSS TemplatesFree Joomla TemplatesFree Blogger TemplatesFree Wordpress ThemesFree Wordpress Themes TemplatesFree CSS Templates dreamweaverSEO Design