Selasa, 14 Februari 2012

Perjalanan Pulang

Minggu 12 Februari 2012 di Malang, hari ini aku berencana pulang ke rumah karena pagi-pagi ibu sudah menelponku untuk memberitahu kalau ba'da ashar (kayak di film 'Kiamat Sudah Dekat' saja :D) ibu minta diantar ke adik yang berada di pondok. Aku berencana pulang ba'da dhuhur saja karena aku belum punya SIM (mengantisipasi bertemu polisi kalau pulang pagi).

Jam 11 aku sudah mandi dan barang-barang yang akan kubawa pulang sudah kupersiapkan. Aku hanya menunggu adzan dhuhur saja, sebenarnya bisa saja aku berangkat jam 11, dan sholat dhuhur dirumah. Karena takut diperjalanan terjadi apa-apa, lebih baik menggugurkan kewajiban sholat dahulu biar tenang tanpa pikiran.

Jam 11:45 adzan dhuhur terdengar berkumandang dari masjid-masjid di sekitar kost'an, aku bergegas mengambil wudhu. Setelah adzan selesai, aku langsung sholat dhuhur. Selesai sholat, faiq yang sedari tadi berada di kamarku memberitahuku kalau di luar hujan. Langsung aku cek ke luar, ternyata hujannya deras banget. Terpaksa kutundah kepulanganku sampai hujannya redah.
Saat hujan sudah redah, tanpa pikir panjang aku langsung berangkat pulang. Ternyata di jalan Soekarno Hatta masih grimis, aku tetap saja melaju dengan kecepatan sedang. Sesampai di pasar Singosari hujan begitu deras, aku langsung menepi untuk memakai mantel yang memang tersimpan di motor. Sesudah memakai mantel, aku langsung melanjutkan perjalanan pulang. Meter demi meter kulalui dengan menerobos barikade tentara hujan yang menghadang.

Di perbatasan Singosari dan Lawang aku dikejutkan dengan adanya genangan air setinggi kurang lebih 15 cm, air tersebut berasal dari sungai kebil di pinggir jalan. Terpaksa aku harus pelan-pelan mengendalikan motornya. Saat aku melju pelan-pelan, aku melihat semua orang juga pelan-pelan mengendarai motornya. Menyadari hal itu, aku berniat melaju dengan cepat karena selagi semuanya pelan-pelan, aku bisa menjadi yang tercepat. Sekitar 5 menit aku melaju menjadi yang tercepat tiba-tiba  motorku batuk-batuk. Padahal jalanan yang beralas air setinggi 15 cm masih panjang. Dengan terpaksa aku menepi dan mengurangi kecepatan.

Disaat berjalan di tepi dan pelan-pelan, tiba-tiba aku dipaksa berjalan di tengah jalan karena  kedalaman air ditepi lebih dalam dari pada di tengah jalan. Aku pun menengah, sekitar  menit berjalan di tengah tiba-tiba motorku mati total. Aku pun panik, dengan berbagai jurus aku mencoba menghidupkan motor yang kukendarai, tapi tetap saja motornya tidak bisa hidup. Aku tidak langsung menepi, karena jalanan masih ramai. Saat jalanan sepi, aku langsung bawa motornya menepi. Dengan niat ingin berteduh, aku menuntun motor berjalan-jalan mencari tempat teduh. Kulihat ada pertokoan yang bisa kubuat berteduh, aku langsung menuju pertokoan tersebut. Di pertokoan tersebut ada seorang bapak yang juga sedang berteduh. Karena kondisi mendesak, aku pun minta tolong ke bapaknya untuk menghidupkannya. Sekitar 15 menit atau malah lebih akhirya motor hidup. Bapaknya menganjurkan aku membawa motor yang belum sembuh total ke bengkel yang jauhnya sekitar 1 Km dari posisi bapaknya. Aku bingung karena uang yang kubawa pulang hanya cukup buat ngenet di warnet selama setengah jam doang.

Setelah berterimakasih dan pamit ke bapaknya, aku melanjutkan perjalanan yang masih luamayan jauh. Sesampai di pasar lawang, aku sadar bengkel yang dimaksut bapakanya adalah di sekitar pasar. Karena uang yang tidak mencukupi, aku tida mampir ke bengkel. Dan aku melanjutkan perjalanan dengan sangat pelan-pelan.

Saat mau ke jembatan lawang, aku berada di belakang bus. Di saat baru sampai menyentuh bibir jembatan tiba-tiba ada genangan air. Karena tidak ada cukup waktu untuk menghindar, akupun melewati genangan air tersebut.  Dan tidak lama setelah itu motorku langsung mati lagi. Akupun  menuntun motorku ke puncak jembatan karena memamng jembatannya menanjak. Sesampai di jembatan aku langsung menaiki motorku, karena jembatan di sisi tersebut menurun. Karena dari Lawang sampai Purwosari jalannya menurun, akupun menaiki motor berjalan di tepi. Purwodadi kulewati tanpa capek, motor terus berjalan tanpa perlu hidup. Sesekali aku berhenti untuk bertanya apa ada yang bawa obeng ke orang-orang yang berteduh. Sampai mau ke purwosari tidak ada yang membawa obeng.

Saat di depan POM baru Purwosari aku melihata ada tempat tambal ban. Aku langsung mampir kesana untuk meminjam obeng. Alhamdulillah, ternyata ada. Ingin aku menari tarian bersyukur tapi aku belum bisa dan juga motornyaa belum hidup. Dengan obeng pinjaman, aku mempraktikkan apa yang kulihat tadi waktu bapak di Singosari membetulkan motor ini. Sekitar 5 menit kubetulkan, akhirnya motorku mulai bernafas lagi walau masih sering batuk-batuk karena masih ada air. Setelah merasa motorku sudah sembuh betul, aku langsung melanjutkan perjalanan  tanpa lupa berterimakasih dan pamit ke yang punya obeng.

Pertama-tama aku mengendarai motor sangan pelan karena takut mati di tengah jalan. Lama-kelama'an motor akhirnya bisa dikendarai dengan kenceng. Di perjalanan aku sangat hati-hati untuk menghidari kontak fisik antara motor dengan genangan air yang dalamnya lebih dari 4 cm. Dan sampai rumah, motornya sudah tidak mati lagi. Walau terasa capek sekali hujan-hujanan 1 j`m lebih di jalanan dengan membawa motor yang mati. Lalu aku dan motor hidup bahagia selama-lamanya. (mencongkel dari dongeng)

0 komentar:

Posting Komentar

 
Free Website TemplatesFreethemes4all.comFree CSS TemplatesFree Joomla TemplatesFree Blogger TemplatesFree Wordpress ThemesFree Wordpress Themes TemplatesFree CSS Templates dreamweaverSEO Design