Minggu, 15 Januari 2012

Sandaran Kursi yang Hidup

Sekitar jam 8:00 WIB, 12 Januari 2012. Aku berangkat ke Malang karena ada keperluane kampus . Pertama-tama aku jalan kaki dari rumah ke jalan raya, jaraknya lumayan bisa bikin berkeringat. Setelah sampai di jalan raya, aku menunggu angkutan ke pandaan. 

Menunggunya lumayan lama, ini karena supir angkutan tidak mau berangkat  sebelum penumpangnya yang banyak, dan karena hampir semua orang mempunyai motor maka otomatis hanya sedikit saja yang  menggunakan angkutan. Bahkan kalau tidak ada anak sekolah yang menggunakan angkutan, mungkin para supir angkutan bakal menganggur.

Sekitar sepuluh menit menunggu akhirnya ada angkutan yang lewat. Aku bersukur sekali, karena tidak jarang di hari-hari sebelumnya aku menunggu sampai setengah sampai satu jam'an. Tak perlu berpikir lagi, aku langsung menaikinya. Selanjutnya perjalanan menuju Pandaan memerlukan sekitar 15 menit. Di Pandaan aku turun di perempatan, sebenarnya aku tidak setuju dengan kata 'turun di perempatan' karena aku tidak turun di tengah perempatan tetapi masih agak jauh dari perempatan.

Setelah turun dari angkutan, aku berjalan ke bawa lampu merah. Di situ aku bersama beberapa orang lainnya menunggu bus. Tidak sampai lima menit akhirnya bus yang di tunggu-tunggu datang juga. Aku langsung naik dengan buru-buru karena takut tidak dapat kursi. Sesampai diatas bus, aku langsung tolah-toleh mencari kursi yang kosong. Aku melihat ada kursi kosong di tengah. Dengan langkah cepat aku langsung berjalan menuju kursi tersebut. Karena busnya sudah berjalan, aku harus berpegangan sandaran kursi yang berada di pinggir-jalan menuju kursi kosong tersebut untuk menjaga keseimbangan.

Dengan langkah terburu-buru aku berjalan sambil memegang sandaran kursi mengikuti langkahku. Kupegangi sandaran kursi satu (di samping pintu masuk), ke kursi dua (kursi di depan barisan kursi satu). Langsung saja aku memegang sandaran kursi tiga (di depan barisan kursi dua). Rasanya memegang sandarn kursi tiga sangat berbeda dengan memegang sandaran kursi satu dan dua. Karena merasa ada yang aneh, spontan aku langsung melihat ke yang kupegang. Betapa kagetnya aku, ternyata yang kupegang adalah kepala nenek-nenek yang memakai kerudung bewarna mirip dengan warna sandaran kursi di bus yang kunaiki. Langsung saja aku meminta maaf karena tidak sengaja. Neneknya hanya melihatku dengan bengong tanpa berkata apa-apa. 

Sudah sering kutemui nenek-nenek yang marah-marah di dalam bus. Aku beruntung sekali karena neneknya tidak galak.

Sepanjang perjalanan, kejadian memegang kepala nenek tersebut terbayang selalu. 

0 komentar:

Posting Komentar

 
Free Website TemplatesFreethemes4all.comFree CSS TemplatesFree Joomla TemplatesFree Blogger TemplatesFree Wordpress ThemesFree Wordpress Themes TemplatesFree CSS Templates dreamweaverSEO Design