Jumat, 13 Januari 2012

Jangan Hanya Lihat

Minggu habis dhuhur, 8 januari 2012 di kamar tidurku. Aku yang teringat keberadaan buku "Nina van Couple" di dalam tasku, segera aku keluarkan untuk kutaruh bersama bukuku yang lainnya. Yang menumpuk tak teratur di kasur.

Setelah beberapa lama berselang, adik-tiba-tiba masuk kekamar. Melihat buku baru, dia langsung mengambilnya.
"Mas, mana buku yang bagus?"
"Semua buku yang mas beli bagus-bagus dik"
"Ini critanya gimana mas?"sambil nunjuk buku "Nina van Couple"
"Mas sudah lupa dik, baca saja sendiri"
"Malas ah, bukunya tebal dan hanya tulisan saja"
"Baca halaman awal saja dik, nanti juga bakal hatam karena penasaran dengan halaman selanjutnya"
"gak ah, terlalu tebal. Ayah bilang mas suka baca buku 'Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk', betul ta mas?" Buku milik ayah.
"Kata sapa?" aku mencoba mengelak.
"Kata ayah"

Aku akui, hampir setiap aku berada di rumah, buku karangan HAMKA tersebut berada di kamarku. Mungkin karena alasan tersebut ayah mengambil kesimpulan 'aku suka membaca buku tersebut'. Padahal tidak selalu kubaca. Dan sebenarnya aku lebih suka membaca 'Kumpulan Puisi Lintang Sugianto-Kusampaikan' daripada buku karya HAMKA tersebut.

Setelah kejadian tersebut aku benar-benar mengerti arti kalimat "Tahu orangnya tahu mukanya tahu perbuatannya, tetapi belum tentu tahu isi hatinya".

0 komentar:

Posting Komentar

 
Free Website TemplatesFreethemes4all.comFree CSS TemplatesFree Joomla TemplatesFree Blogger TemplatesFree Wordpress ThemesFree Wordpress Themes TemplatesFree CSS Templates dreamweaverSEO Design