Sabtu, 19 Maret 2011

Tak Bisa Membedakan Emas dengan Kuningan

Pada malam minggu aku berencana mau ngepet saja karena persediaan uangku sudah menipis. Setelah semuanya sudah siap, akupun berangkat ngepet dengan rupa Celenganthropus.

Baru masuk ke kampung orang, eh... ternyata banyak pemuda yang lagi nongkrong di gerdu. Dengan berhati-hati banget aku melangkah menuju rumah yang GEDE BANGET. "Woi itu ada babi coy" teriak salah satu pemuda yang sedang nongkrong di gerdu. Akupun urungkan niatku ngepet malam itu, aku memilih kebur saja karena tidak lama kemudian semua pemuda yang di gerdu tadi mengejarku. Cukup sekali saja aku ngepet di malam minggu, hampir semua pemuda pada begadang ketika malam mingguan.

Malam senin hujan turun lumayan deras, aku berniat ngepet di malam itu karena aku tahu hampir semua orang ketika malam hujan mereka memilih untuk tidur saja. Persiapan sudah lengkap, tinggal berangkat saja.

Aku memilih menuju ke rumah yang GEDE kemaren saja sebagai targetku malam itu. Malam itu aku tak melihat satupun pemuda yang nongkrong di gerdu. Langkahku terasa ringan sekali membayangkan apa yang akan kudapatkan dari rumah GEDE itu. Sambil kumenari-nari aku masuk ke rumah tersebut. "wow....kapan aku punya rumah kayak gini yah?" pikirku yang baru masuk kerumah tersebut, "berhenti untuk terpukau, entar juga bakal punya rumah seperti ini jika aku rajin ngepet" sanggah pikiranku lainnya.

Tujuan pertamaku adalah ke kamar orang yang punya rumah itu, tapi aku bingun karena di situ ada 5 kamar -2 kamar di lantai 1, dan 3 kamar dilantai2-. Aku masuk saja ke kamar yang terdekat dari tempatku saat itu. Ternyata ini kamarnya pembantu, ini kuketahui karena barang-barang di kamar itu tak ada yang mewah. Aku langsung keluar dari kamar dan menuju kamar di lantai 2 saja.

Pas aku menuju ke lantai 2, aku melihat ada sosok hitam yang keluar dari salah satu kamar. Setelah aku nekat mendekati sosok hitam itu dengan rasa ketakutan yang amat dan sambil sembunyi-sembunyi, aku baru tahu kalo sosok gelap itu ternyata adalah maling. Yah, ternyata tujuanku dan dia datang ke rumah itu sama. Si maling itu sudah dapat barang setengah karung. Bikin iri saja maling ini.

Aku tanpa pikir panjang yakin maling itu baru keluar dari kamar pemilik rumah ini. Langsung saja aku masuk ke kamar tersebut dan kudapati isi lemarinya sudah berantakan semua. Tak sengaja mataku menangkap box besi yang berada di dalam sudut lemari. Kudekati box besi itu dan kusadari box itu masih terkunci rapat. Box besi itu kira-kira berukuran 25x40 cm. Kudekatkan kepalaku ke box itu, dengan menggunakan ilmu pemberian guruku kudorong kepalaku hingga menembus dinding box besi itu dan sekarang kuketahui dengan jelas isinya perhiasan-perhiasan. Kuaktifkan hidung tranferku, lalu hidungku kusentuhkan ke perhiasan-perhiasan yang ada di depanku. Dengan cara menyentuhkan hidung tranferku, barang yang kena sentuh langsung ke kirim ke kamarku.

Ngepet tahun ini cuku hari itu saja. Satu box berisi perhiasan saja sudah cukup bisa menghidupiku bertahun-tahun asal tidak boros.

Senin siang, aku coba berencana menjual satu perhiasan yang kudapat dari ngepet tadi malam. Dengan langkah ringan aku berangkat ke toko emas terdekat. Pas sudah sampai di toko emas aku langsung disambut ramah. "Ada yang bisa saya bantu pak?", "saya mau menjual ini (sambil aku menunjukkan perhiasan)", "boleh saya lihat?", "silahkan" jawabku. Hamir semenit dia mngamati perhiasan yang kubawa lalu dia berkata "maaf pak, ini bukan emas, ini kuningan pak".

Nasip-nasip, kenapa aku tidak bisa membedakan emas dan kuningan yah? andai aku bisa, pasti tak akan malu kayak gitu.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Free Website TemplatesFreethemes4all.comFree CSS TemplatesFree Joomla TemplatesFree Blogger TemplatesFree Wordpress ThemesFree Wordpress Themes TemplatesFree CSS Templates dreamweaverSEO Design